Wednesday, April 9, 2014

Wajahmu Mengalihkan Duniaku


Sarah Savaira Althafunnisa...

Sejak kelahirannya hari-hari saya berubah, tepatnya hari-hari kami (saya dan suami). Ada gadis kecil menggemaskan yang hadir di hidup kami. Anggota keluarga baru kami yang disambut dengan penuh suka cita. Cucu perempuan diantara dua cucu laki-laki di keluarga saya. Kamar saya di rumah ibu pun ikut berubah jadi lebih bersih, rapih dan hadir benda-benda milik sarah yang sudah dipersiapkan sejak sebulan sebelumnya. 

Di awal kelahirannya semua orang ikut bergembira. Tamu datang silih berganti. Ucapan selamat dan doa tercurah untuk gadis kecil kami. Bahagianya merasakan jadi ibu baru. Rasanya ajaib melihat wajahnya yang kata orang mirip saya.

Menjadi ibu baru adalah sesuatu yang luar biasa menyenangkan tapi juga luar biasa sulit. Jam tidur sarah yang ga tentu di awal kelahirannya, membuat seisi rumah hampir ga pernah tidur nyenyak di malam hari karna tangisnya. Luka jahitan yang belum sembuh masih terasa dan membuat saya ga lincah bergerak. Sempat terserang demam meriang juga karna infeksi. Penyesuaian proses menyusui juga ga mudah buat saya. Apalagi dengan luka lecet akibat posisit menyusui yang salah. Rasanya membuat malas menyusui. 
Tapi alhamdulillah dengan penuh perjuangan sarah belum pernah kekurangan asi dari bundanya. Saat itu saya baru sadar bahwa menyusui itu sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat terutama suami. Alhamdulillah ketika saya merasa sakit, ayah selalu bilang "sabar ya bunda" sambil mengecup kening ^^ 

Di minggu-minggu awal kelahirannya rasanya takut sendirian hanya berdua sarah ketika ga ada ibu, juga ketika suami ga ada disamping saya di malam hari. Walaupun ada ibu yang membantu menggendong sarah ketika ia menangis. Kalaupun ada suami, paling-paling ia tertidur pulas ga dengar suara tangis sarah. Ga apa yang penting ia ada. Melihat ia ada tertidur sudah cukup. Apalagi kalau ia terbangun lalu mengambilkan saya minum atau mijit kaki. Terimakasih ayah ^^

sesudah kesulitan ada kemudahan. Satu kesulitan tidak pernah mengalahkan dua kemudahan. Alhamdulillah perlahan-lahan luka jahitan sembuh sekitar minggu ketiga. Sedikit-sedikit memperbaiki posisi menyusui yang nyaman buat saya dan sarah. Luka akibat salah menyusui juga smakin sembuh. Saya semakin tenang menghadapi sarah yang menangis. Saya juga mulai memberanikan diri membawa sarah ke rumah tajwid dan liqo. Ingin selalu membawanya kemanapun saya pergi. Termasuk ketika sudah kembali mengajar nanti.

Baiknya Allah menciptakan kepada perempuan masa nifas selama 40 hari. Menjadi gugurlah kewajiban solat dan puasa. Agar perempuan yang baru melahirkan bisa istirahat sejenak, menyembuhkan sakitnya, menyesuaikan diri dengan bayinya dan membangun ikatan cinta dengan bayinya. Allah Maha Tau yang terbaik untuk hamba-Nya.

Rasa lelah dan sakit hilang begitu melihat wajahnya. Apalagi ketika sarah bobo.. rasanya dunia damai dan bahagia. Lelah yang menyenangkan. Makasi ya Rabb telah menganugerahkan seorang gadis kecil. Smoga kami dapat menjaga amanah-Mu yang pertama.. yang kedua kelak, ketiga, keempat dan seterusnya. Aamiiin..

Friday, March 14, 2014

My little girl: Sarah Savaira Althafunnisa

Senin, Duapuluh tujuh Januari...
Ketika kebahagiaan kami menyembul di awal hari..
Pagi itu pukul 05.49 lahir seorang putri cantik yang sudah 38 minggu usianya di dalam kandungan saya. Masya Allah rasanya luar biasa. Luar biasa rasanya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata karna saat itu saya sudah menjadi ibu bagi buah hati kami. Luar biasa karna merasakan perjuangan menjadi ibu yang selama ini hanya saya tau lewat cerita saja. Melahirkan buah hati kami yang pertama.. pengalaman pertama yang tidak akan terlupakan.

Kelahiran buah hati kami lebih cepat dua minggu lebih. Ia memilih waktunya sendiri untuk dilahirkan. Hari minggu sebelumnya saya masih menyempatkan diri jalan pagi bersama suami di UI. Aktivitas yang hampir rutin kami lakukan. Bersyukur ada suami yang masih sempat menemani saya jalan pagi di hari minggu, atau sabtu sore atau malah kadang pagi hari weekday sebelum ia berangkat ngajar. Walaupun ia seringkali kasihan melihat saya terlihat kelelahan karna jalan jauh tapi saya tetap senang dengan aktivitas jalan kaki selama hamil. Pulang dari ngajar TK juga saya manfaatkan untuk jalan kaki dari TK ke rumah ibu. Sore hari baru pulang ke kontrakan kami naik angkot karna jaraknya jauh. Mungkin kebiasaan jalan itulah yang membuat proses kelahiran saya terhitung cepat. Saat itu kontraksi ringan mulai terasa tiap lima menit. Saya masih menikmati jalan kaki dan menyempatkan diri nonton anak-anak kecil latihan wushu. Beladiri yang dari dulu ingin saya ikuti tapi belum kesampaian. Someday kaka yang akan jadi peserta wushu cilik.

Makin malam kontraksi makin terasa. Rasanya mules luar biasa. Jam delapan malam belum ada pembukaan, begitu kata bidan. Makin malam kontraksi makin kuat. Mata mengantuk dan lelah, tapi apa daya kontrakssi yang ada membuat mata tak bisa terpejam. Jam duabelas malam pembukaan satu, lagi kata bidan yang sama. Saya diperolehkan menunggu di rumah bidan sambil istirahat disana. Saya memilih untuk pulang daripada harus melahirkan di rumah bidan. Saya bisa mengganggu seorang ibu dan bayinya yang baru saja lahir kalau saya melahirkan disana. Terbayang saya akan teriak-teriak selama proses melahirkan. Alhamdulillah saat itu ada suami disamping saya. Membantu saya mengelus punggung. Saya menahan sakit kontraksi, ia menahan kantuk luar biasa sambil mengelus pelan punggung saya. Jam tiga saya putuskan untuk pergi ke klinik tempat saya biasa memeriksa kehamilan. Rasanya sudah semakin dekat dan semakin tak tahan. Alhamdulillah di klinik bidannya ramah-ramah. Menangani saya dengan lembut dan sabar, walaupun saya nakal karna mengejan sebelum waktunya. Mengerti betul ga boleh mengejan sebelum bukaan lengkap, bahkan bidan-bidan pun slalu mengingatkan dengan lembut "ibu jangan ngeden dulu ya". Saya gagal tarik nafas dan buang nafas. Karna tiap buang nafas selalu sambil mengejan.

Satu dokter empat bidan dan didampingi suami, saya menjalani proses melahirkan normal. Ketika itu terbayang ibu yang melahirkan saya, terbayang inilah maksudnya surga ada di telapak kaki ibu, terbayang bahwa iniah maksudnya Rasullulah menyebutkan kata "ibu" sebanyak tiga kali sebelum "bapak". Ya Rabb ampuni hambaMu ini...

Alhamdulillah pukul 05.49 lahirlah putri pertama kami. Rambutnya hitam lebat, bibirya merah merekah. Beratnya 3,1 kg dengan panjang 47 cm. Rasanya bahagia luar biasa ketika ia diletakkan di dada saya. Melihat wajahnya.. merasakan gerakan jari-jemarinya yang mungil. Lengkap sudah kebahagiaan kami hari itu. Makasi ya Rabb atas segala karunia yang telah Engkau berikan kepada kami atas putri kecil kami. Semoga kami bisa menjadi orangtua yang dapat mendidik putri kami menjadi putri yang solehah, berguna bagi agama dan masyarakat, dan menjadi pejuang di akhir zaman yang berjihad di jalan-Mu.. aamiin..
Bayi Sarah baru pulang dari klinik ^^
Sarah Savaira Althafunnisa

Sarah diambil dari nama istri nabi ibrahim. Perempuan yang pertama beriman kepada nabi Ibrahim, cantik dan tidak terpengaruh oleh lingkungannya yang menyembah berhala. Semoga Sarah menjadi perempuan yang cantik dan tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yan buruk dimanapun ia berada.
Savaira artinya pagi hari.
Althafunnisa diambil dari tokoh anna althafunnisa di film Ketika Cinta Bertasbih ^^ Artinya perempuan yang lembut. Semoga Sarah menjadi perempuan yang lembut. Cantik, pintar, cerdas, berhijab rapih seperti tokoh anna althafunnisa. Aamiiin..
Satu bulan usianya dan belum dicukur ^^
Hari minggu pagi di UI. Istirahat sejenak setelah lelah jalan kaki sambil nonton latihan wushu anak-anak
Selama kehamilan saya dan suami selalu mengajak kaka bicara. Saya sering bicara padanya "kaka nanti lahirnya kalau ada ayah aja ya. Lahrinya malem aja atau subuh". Alhamdulillah kaka pintar, tau bundanya akan jauh lebih nyaman kalau ada ayahnya. Kaka memilih waktunya sendiri untuk dilahirkan, ketika ada ayahnya disamping saya pada waktu subuh.

Terimakasih kaka Sarah, sudah hadir di hidup ayah dan bunda.. we love you..

Friday, January 17, 2014

White Vintage Pouch

Dah lama ga blogging, karna jaringan internet ga nyambung-nyambung. Padahal banyak yang mau diposting. Waaah pagi ini Depok sudah diguyur hujan dari semalam. Musim penghujan dan banyak tempat yang terkena banjir. Alhamdulillah rumah saya bebas banjir. Smoga hujan ini mendatangkan keberkahan bagi semua orang. Walaupun banyak yang terkena banjir, insya Allah ada hikmahnya dibalik banjir. 

Alhamdulillah usia kandungan sudah 35 minggu dan kaka sama bundanya sehat. Insya Allah bulan depan insya Allah kaka dan bunda bertemu ^^. Masih sibuk ngajar tapi jadi jarang bikin produk. Baru yang ini aja bikin white vintage pouch untuk suvenir pernikahan. Pouch berbahan kain blacu dengan aksen renda. Bunganya tetep dari kain blacu.

Thursday, January 2, 2014

One Day One Juz


Membiasakan membaca quran sehari satu juz di luar bulan ramadhan rasanya agak susah. Ketika ramadhan banyak energi positif untuk membaca satu juz quran dalam sehari, lingkungan pun mendukung sekali. Ketika bekerja kantoran dulu, jam istirahat makan siang bisa dipakai tilawah, maupun ketika istirahat ashar dan juga setelah dhuha. Bahkan di perjalanan kereta banyak orang yang terlihat memegang quran kecil atau handphone sambil khusuk komat-kamit membaca quran. Suasana ini menjadi pendukung tilawah satu juz sehari. Ketika hamil, saya targetkan untuk membiasakan membaca satu juz satu hari. Tapi nyatanya setelah lewat ramadhan, rasanya susah. Hingga akhirnya targetan tilawah hanya beberapa lembar dalam sehari, mulai dari 8 lembar sehari, 6 lembar sampai turun jadi 3 lembar.

Sudah hampir dua bulan ini saya ikut komunitas ODOJ (One Day One Juz). Awalnya tiba-tiba saja saya diinvite bergbung di grup ODOJ whatsapp untuk akhwat. Setelah bertanya pada suami ternyata ia yang meminta temannya ikut memasukkan saya di grup itu. Dan saya pun mulai mengikuti irama grup whatsapp ODOJ ini sambil masih kebingungan grup seperti apa ini? Siapa penggagasnya?

Ternyata setelah diikuti, grup ini terdiri dari 30 orang yang diberi tugas masing-masing membaca 1 juz quran. Ada admin grup yang mengendalikan jalannya grup, ada juga penanggung jawab (PJ) harian yang bertanggung jawab mendata list hari tersebut dan siapa-siapa yang sudah selesai 1 juz dan yang belum dari pagi hingga jam 9 malam. PJ harian ini bergantian. Kalau member tidak sanggup menyelesaikan 1 juz dalam hari itu karna alasan tertentu, bacaannya bisa dilelang dan diambil oleh member lain yang bersedia. Targetan harian 1 grup adalah khatam quran. Kalau sedang haid dan memilih untuk tidak membaca quran, bisa diganti dengan mendengar murrotal, atau membaca terjemah. Tidak ada yang mengawasi apakah kami benar-benar membaca quran atau tidak. Cukup Allah saja yang mengawasi. Dan subhanallah, banyak cerita-cerita luar biasa dari para ODOJer. Walaupun dalam 1 grup kebanyakan hanya kenal lewat whatsapp, kami saling mendukung satu sama lain, saling menyemangati tilawah anggota lainnya. Persaudaraan tilawah quran :) Update terakhir saya kemarin sudah ada sekitar 46.000 lebih anggota ODOJer dari ikhwan dan akhwat. Subhanallah... smoga bisa terus bertambah.

Di awal memang sulit membiasakan kembali membaca 1 juz dalam sehari di luar ramadhan. Baca 3 lembar, 5 lembar, 8 lembar... ko habis-habis.. hehehe.. tapi lama kelamaan jadi terbiasa. Bahkan ketika sudah lelah karna aktifitas seharian dan baru sempat tilawah di malam hari, tilawahnya jadi lebih khusuk dan enak. Ga lagi dikejar-kejar tinggal berapa lembar yaa? Alhamdulillah,. semakin menikmati membaca 1 juz 1 hari. Alhamdulillah kaka setiap hari mendengar bundanya baca quran 1 juz ditambah tilawah ayahnya juga. Kalau ayah libur ada dirumah berarti kaka bisa dengar 2 juz bacaan quran dirumah. Karna kami biasa bergantian kalau baca quran, jadi ga bentrok. Semoga dengan banyak mendengarkan bacaan tilawah ayah dan bunda, kaka jadi terbiasa mendengar quran dan jadi mudah menghapalnya kelak.

Kunci sukses 1 day 1 juz adalah meluangkan waktu bukan membaca di waktu luang. Maka sejak saya tergabung dalam grup ODOJ, kapan saja dimana saja meluangkan waktu untuk tilawah. Ketika berpergian naik angkot (kalau supirnya ga nyetl lagu dan suasana angkot kondusif aja sih^^), di kereta (alhamdulillah selalu dapat duduk karna perut gendutnya ^^), bahkan ketika kami berteduh menunggu hujan reda dari perjalanan naik motor juga menyempatkan tilawah. Saya dan suami saling mengingatkan target tilawah harian. Semoga tetap istqomah dalam kebaikan dan menyebarkan kebaikan. Aamiiin...

Pendaftaran klik DISINI



Friday, December 20, 2013

Beutiful First Year with You

15 Desember 2012
Ga terasa sudah setahun usia perinkahan kami. Masih muda sekali usianya. Banyak hal yang terjadi dalam rumah tangga kami, cerita senang, sedih, lucu, harubiru, pertengkaran demi pertengkaran, kesulitan demi kesulitan dan kebahagiaan yang ada di rumah tangga kami membuat hari-hari kami jadi lebih berwarna. Seperti pelangi dengan warna-warninya yang indah. Kini kebahagiaan kami bertambah dengan adanya janin di dalam rahim saya yang alhamdulillah sudah berusia 7 bulan. Keajaiban yang luar biasa ketika kami tau saya hamil. Semakin hari kakak semakin besar dan gerakannya semakin terasa. Ketika naik motor ayah sering merasakan punggungnya ditendang oleh kakak. Mungkin mau bilang "ayah pelan-pelan naik motornya". Setiap hari saya dan ayahnya mengajaknya bicara dari hati ke hati, memperdengarkannya bacaan quran, membacakan kisah setiap bada isya atau malah diajak belajar matematika sama bundanya.
Rihlah di Kebun Raya Bogor bersama anak-anak Imani 3 Depok
Honeymoon di Jogja ^^
Murid-murid TK saya senang sekali memegang perut saya lalu bilang "gendut". Repotnya kalau mereka dengan asalnya nemplok di punggung sambil memeluk leher saya beramai-ramai plus ada yang duduk seenaknya di pangkuan ketika saya duduk. "Ibu gurunya berat, kasian dede bayinya". Ada yang kasian ada yang cuek aja nemplok di punggung.. hhhhh... tapi besok-besok kaya gitu lagi..

Rasanya kalau mengingat-ingat apa yang terjadi dalam rumah tangga kami.. subhanallah... Allah telah mempertemukan saya dengan laki-laki terbaik. Laki-laki yang dengan sabarnya menghadapi saya yang manja, keras kepala dan mau menang sendiri. Kami sama-sama anak bungsu, tapi karakter anak tunggal lebih melekat pada diri saya karna dari kecil tinggal terpisah dari kedua kakak. Ia suami yang lembut, tak pernah sedikitpun berkata keras atau kasar. Kalaupun kami bertengkar karna kesalahan saya, selalu ia lebih dulu yang meminta maaf. Duduk di sebelah saya lalu berkata dengan kata-kata yang lembut, menasehati dan memberitahu apa kesalahan saya. Sementara saya hanya bisa menangis. Memendam ego untuk meminta maaf.
Salah satu tempat favorit kami, masjid UI
Ada satu kisah dalam rumah tangga kami yang selalu saya ingat. Kisah itu membuat saya bersyukur bahwa Allah mempertemukan kami. Kisah ini ketika beberapa bulan pernikahan. Kami hanya sempat tinggal dirumah orangtua selama sebulan. Selebihnya kami memutuskan untuk tinggal mandiri di rumah kontrakan. Hidup berdua, belajar menjadi suami dan istri seutuhnya tanpa campur tangan orangtua. Mandiri dalam hal finansial, mengatur rumah tangga sendiri, serta melatih kesabaran berumahtangga. Hampir setiap hari saya masih "bekerja" di rumah ibu, mengurus orderan dan lain sebagainya. Berangkat dari kontrakan siang pulang sore hari menggembol laptop di punggung. Hari ini seperti biasa saya pulang sore. Sampai di kontrakan sekitar jam lima. Lalu mandi, beberes, solat magrib, tilawah beberapa lembar lalu merebahkan punggung di kasur karna pegal. Saya punya kelainan tulang punggung yang dinamakan skeliosis. Dulu waktu SD di pelajaran IPA, dijelaskan skeliosis itu tunggang pungung yang miring berbentuk huruf S. Skeliosis saya dalam derajat kemiringan ringan, tapi tetap berefek cepat lelah di punggung kalau saya banyak duduk atau banyak berdiri. Kelelahan membuat saya tertidur pulas. Ga dengar azan isya. Hari itu jadwal suami pulang lebih cepat karna masuk lebih cepat. Tiba-tiba saya terbangun sudah sekitar jam setengah sembilan. Saya sadar seharusnya suami sudah pulang dari tadi. Saya ambil handphone melihat jam dan melihat pesan masuk di whatsapp dan sms darinya. Whatsappnya mengatakan ia sudah di depan, lapar dan ingin buang air kecil. Lalu smsnya berbunyi "kamu cape ya?". Dengan kesadaran penuh saya bangun dan melongok ke jendela, tapi tak ada tanda-tanda ia di depan rumah. Lalu segera mengirimkan sms agar ia cepat pulang. Sambil menuju kamar mandi tak terasa saya menangis. Pikiran saya melayang pada kisah rumah tangga Rasulullah dengan Aisyah. Ketika Rasulullah pulang kemalaman dan Aisyah tidak membukakan pintu karna tertidur di depan pintu. Lalu Rasul lebih memilih tidur di depan pintu luar Aisyah ditemani dengan debu pasir yang berterbangan dibandingkan dengan membangunkan Aisyah. Satu lagi yang membuat saya menangis adalah karna saya tak mengenal laki-laki seperti itu yang membiarkan istrinya tertidur kelelahan sementara ia kelaparan di luar. Yang saya tau dari kecil ketika laki-laki ada di luar rumah dan menemukan pintu terkunci maka ia akan mengetuk dan menggedor pintu sampai seisi rumah terbangun. Ia bisa saja menelpon saya, tapi tidak dilakukannya. Ternyata ia meneladani Rasulnya.

Ketika ia sampai, saya serta merta memeluknya erat. Menangis dalam di pundaknya. Ingin meminta maaf karna membiarkannya kelaparan, tapi tak satupun kata-kata keluar dari mulut saya. Mungkin ia bingung kenapa tiba-tiba saya menangis. Ia bilang ia berniat tidur di teras kontrakan tapi khawatir karna ada tetangga yang maih di luar rumah, takut dikira sedang bertengkar. Maka ia memutuskan pergi dulu ke lapangan fulsal dekat sana sampai agak malam baru kembali dan tidur di teras. Saya bersyukur, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, ia berusaha meneladani Rasulnya. Pun ketika kancing bajunya copot atau celana panjangnya robek. Ia berusaha menjahitnya sendiri seperti Rasulullah yang tak pernah merepotkan Aisyah. Walaupun ia tau saya jauh lebih mahir dalam pekerjaan jahit-menjahit.
Foto bayangan di parkir timur senayan. Baru pulang dari pmeran buku ^^

Sedikit kisah kebersamaan kami ^^

Sepiring berdua
Lupa tepatnya sejak kapan kami memulai kebiasaan ini. Mungkin sejak tidak tinggal lagi bersama orangtua. Sampai tulisan ini di publish pun masih sepiring berdua. Rasanya jauh lebih nikmat menurut saya. Ada keberkahan dari tiap suapan nasi dari tangannya. Makannya sepiring berdua, disuapin juga..hehehe.. Di awal-awal saya yang menyuapkan makanan kepadanya, tapi katanya kalau saya yang suapin, suapannya sedikit dan lama. Karna jari jemari saya jauh lebih kecil darinya.

Olahraga bersama
Tiap sabtu pagi kami selalu menyempatkan diri olahraga di UI. Jogging di bundaran depan rektorat. Bahkan ketika awal kehamilan saya masih main badminton bersamanya. Belum tau kalau saya sudah berisi. Sejak tau saya hamil, kami tetap rutin ke UI. Saya jalan kaki dan ia harus tetap lari. Biar sehat ^^ Kami suka sekali memperhatikan orang-orang disana, khususnya yang olahraga bersama keluarga. Senang rasanya menyaksikan orangtua dan anak-anak kompak jogging bersama. Apalagi kalau mereka bawa anak kecil yang lucu-lucu, sambil berkata "nanti kita juga kaya gitu".

Tahsin
Jadwal olahraga kami di sabtu pagi diubah ke sabtu sore atau minggu sore karena kami mulai ikut program tahsin. Sadar bahwa bacaan quran kami tak sempurna. Bagaimana mau mengajarkan quran dengan benar kepada anak-anak kelak kalau makhroj huruf kami masih berantakan. Dan terbukti ketika pertama kali ikut tahsin, bacaan iqro dari jaman TPA dulu banyak yang salah. Cita-cita selanjutnya dengan ikut program tahsin di Rumah Tajwid adalah hafiz quran. Semoga anak-anak kelak menjadi generasi penghapal quran.. aamiiin...

Toko buku
Nah ini tempat favorit kami. Beli ga beli buku tetap toko buku jadi tempat favorit. Bahkan dalam 1 bulan bisa 3x weekend kami ke toko buku. Sebelum nikah, toko buku juga jadi tempat favorit saya. bedanya kalo dulu ke toko buku sendirian, sekarang selalu bersamanya. Ingin mengajarkan anak-anak kami kelak agar gemar membaca, cinta buku, cinta ilmu. Semoga juga kelak punya perpusatakaan pribadi di rumah. aamiiin...

Masak bareng
Masak bareng kadang-kadang aja kalau weekend atau pagi hari sebelum ayah brangkat ngajar. Buat saya masak bareng seru banget. Ayah goreng-goreng di kompor sebelah kiri, saya bikin masakan di kompor sebelah kanan. Kalau lagi ga ada makanan di malam hari, ayah suka bereksperimen dengan bumbu-bumbu. Masak apa? Nasi goreng.. hehehe... makanan favorit ayah. Serahkan saja pada ahlinya deh kalau mau makan nasi goreng. Saya tinggal duduk manis di depan laptop sambil menunggu nasi goreng matang ^^

Hari tanpa televisi
Di rumah kontrakan kami sejak awal memang ga ada televisi. Dulu saya sempat bingung karna di rumah murobbi saya ga ada siaran televisi. Ada tivi hanya untuk nonton vcd/dvd. Selebihnya ada laptop dengan akses internet wireless 24 jam dan ada koran untuk update berita. Trus hiburannya apa dunk? Okelah berita bisa liat di koran dan internet. Tapi masa ga ada siaran tivi seperti di rumah-rumah pada umumnya? Semakin lama saya mengerti mengapa televisi bukan bagian yang penting bagi keluarga mereka. Dan saya memutuskan untuk tidak menghadirkan televisi di rumah kami kelak. Suami setuju ketika saya membicarakan rumah tanpa televisi setelah menikah. Jadi ga bisa nonton drama korea lagi deh.. hehehe.. suami juga ga bisa nonton siaran langsung bola.

Nonton bareng
Walaupun ga ada televisi tapi kami suka nonton film di laptop atau ke bioskop. Ayah punya koleksi film hasil download di internet atau copy dari temannya yang suka download film. Kalaupun ke bioskop untuk nonton film baru, kami pilih 21 yang paling murah di Depok. Filmnya sama aja sama bioskop yang mahalan dikit kan? Hehehe.. budget nontonnya jadi bisa buat makan deh..
Usia kehamilan enam bulan. Ga keliatan yaa lagi hamil ^^
Tak ada rumah tangga yang berjalan mulus, sama halnya rumah tangga Rasulullah. Itu sebabnya Rasulullah dari manusia biasa dengan istri-istri beliau yang juga sama-sama manusia biasa. Sehingga kita dapat mencontoh suri tauladan yang baik dari beliau. Meneladai bagaimana rumah tangga Rasulullah. Semoga dalam perjalanan rumah tangga kami, Allah selalu memberkahi.. aamiiin..

Sunday, December 1, 2013

Bermain Ular Tangga

Sudah lama pingin moto bedcover yang sudah lama saya bikin, tapi susah karna besar. Bed cover ular tangga berkuran 2,4 x 2,4 meter tadinya pingin dijual tapi setelah dipikir-pikir, ga usah deh. Buat anak-anak saya main aja kelak. Dan ternyata baru pertama kali dimainkan anak-anak setelah saya mengajar di Bintang Cendikia. Bed cover ular tangga ini ada 36 kotak, masing-masing kotak berukuran 40 cm. Jadi satu kotak cukup ditempati satu anak. Temanya warna biru  Tulisan angka, gambar ular dan tangganya menggunakan kain flanel yang dijahit tangan. Ibu saya yang jait feston semuanya. Sementara saya cuma ngedesain aja. Semuanya orang lain yang ngerjain.. hehehe..

Senangnya lihat anak-anak antusias lihat ular tangga segede itu. Anak-anak jadi bidaknya. Mainnya dua-dua. Satu pasang tim terdiri dari dua orang, yang satu jadi bidak yang jalan di bedcover dan satu lagi yang mengocok dadunya. Dadunya hanya dari kertas karton sebesar 15 cm. Dan kocokannya dari keranjang-keranjangan. Bagus banget buat anak-anak belajar berhitung. Juga ada gerak motorik kasar ketika anak melompat atau berpidah dari satu kotak ke kotak lainnya. Ketika berpidah kotak, anak-anak harus dibimbing berhitung. Ada yang salah pindah kotak, karna belum ngerti urutan-urutan angkanya. Ketika hampir sampai garis finish anak-anak dengan semangat menyoraki temannya yang jadi bidak. Tapi ya yang namanya anak-anak, dibilangin peraturannya yang tidak bermain tidak boleh menginjak bedcover, tetap saja masuk-masuk ke arena bermain. Ada yang senangnya jadi bidak, ada yang senangnya ngocok dadu. Saya pikir anak-anak lebih senang jadi bidak, ternyata engga. Beberapa hari kemudian beberapa anak bilang "bu, man ular tangga lagi bu". Senang rupanya main ular tangga yaa...

Tapi ternyata saya baru tau, ular tangga yang saya bikin ada yang salah karna dalam satu kotak ada ular dan tangga. Alhamdulillah ga dijual, mainnya bingung nanti deh yang beli. Buat kakak dan adik-adik nanti main aja yah... Peluk hangat ayah dan bunda buat kakak di dalam perut ^^
Gliran Nizam dan Rendra yang jadi bidak.
Teman-temannya sibuk nunjukin kotak mana yang harus diinjak oleh Nizam dan Rendra.
Bu Nunung sedang memberitahu anak-anak agar tidak masuk arena bermain ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...