Wednesday, February 3, 2016

Kisah Persalinan Fatimah Qonita Shabira

Rabu, 13 Januari 2015.. Saya masih dengan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Pagi masih aktif ngajar TK, malam masih ngajar TPA di rumah. Siang harinya saya merasakan tanda-tanda persalinan. Gelombang cinta dari ade rupanya sudah datang. Alhamdulillah.. saya sudah merasakan mules-mules ringan. Ini minggu ke-40 kehamilan saya. Sebelumnya saya menyiapkan diri kalau-kalau kehamilan saya akan berusia lebih dari 40 minggu. Terutama menyiapkan mental, kesabaran dan keikhlasan atas apa pun yang terjadi nanti di usia kehamilan diatas 40 minggu. Entah itu menyiapkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan kok belum lahir? atau persalinan dengan intervensi atau malah persalinan akan berakhir di meja operasi. Saya juga mengatakan pada suami bahwa ia tidak boleh panik kalau saya akan melahirkan di atas 40 minggu. Dengan berbekal sedikit pengetahuan sebelum melahirkan kakak dan dari teman-teman di grup Persalinan Maryam dan terus berdoa, saya berusaha tenang. Bahkan ibu-ibu guru bilang "ibu tenang banget udah mules-mules gitu". Dan alhamdulillah hari yang dinanti tiba. Dan ternyata sudah muncul sedikit flek. Saya berusaha tetap tenang sambil menunggu suami pulang. 

Malamnya saya beritahukan kepada suami perihal mules dan flek. Katanya "kok ga bilang?" Saya katakan biar saja menunggu ia pulang, karna khawatir ia panik di jalan dan terburu-buru pulang. Lalu saya merapihkan ulang perlengkapan persalinan yang sudah saya siapkan kurang lebih sebulan yang lalu. Apa yang kurang ditambah, apa yang kira-kira kebanyakan dikurangi, karna tasnya tidak teralalu besar. Saya menambahkan kurma di tas untuk menambah tenaga ketika persalinan, karna menurut buku Bu Mugi, ibu yang sedang dalam kondisi kontraksi pasti ga pengen makan, maka kurma adalah solusinya. Lalu saya siapkan lagi satu tas isi perlengkapan kakak Sarah (tanggal 27 tepat berusia 2 tahun) berisi baju, diapers dan perlengkapan mandi. Saya dan suami sepakat bahwa kakak akan dititipkan kepada teman dekat rumah ketika proses persalinan tiba. Saya lalu menghubungi teman kalau saja di malam hari saya harus menitipkan si kakak kepadanya. Tapi ternyata malam itu saya bisa tidur nyenyak. Begitu pula di hari kamis berikutnya.
Suami yang merasakan waktunya sudah dekat, membatalkan jadwal mengajarnya di hari kamis dan jumat. Padahal saya tidak keberatan jika ia masih mengajar di hari kamis atau jumat sepanjang kontraksi yang saya rasakan masih sama. Tapi ia jauh lebih khawatir dari saya. Khawatirnya adalah tanda sayangnya pada saya. Maka saya biarkan saja ia meliburkan diri dan membersamai saya juga gadis kecilnya.
Jumat pagi saya mengajak suami jalan pagi sekalian ke rumah orangtua dengan harapan itu akan mempercepat proses kontraksi. Alhamdulillah bisa jalan kaki kurang lebih 40 menit ke rumah orangtua dengan kecepatan standar ibu-ibu hamil besar. Kurang lebih pulang pergi sekitar 1 jam 20 menit. Sore harinya gelombang cinta semakin menguat. Akhirnya setelah solat isya, kakak kami titipkan. Digendong ayahnya dalam keadaan sudah tertidur lelap ke rumah teman. Setelah itu kami pergi ke bidan dekat rumah jalan kaki. Sambil merasakan gelombang cinta dari ade, setiap jalan kurang lebih 5-10 meter saya dan suami berhenti. Saya mengatur nafas sambil menggenggam kencang tangan suami. Suami mengelus punggung saya perlahan untuk membantu mengurangi rasa sakit kontraksi. Setiap berhenti, kami jadi perhatian orang-orang yang kebetulan melihat. Biarlah.. mungkin mereka juga paham saya akan melahirkan. Jarak dari rumah ke bidan kurang lebih 100 meter, lumayan dekat. Sampai di bidan lalu diperiksa ternyata baru bukaan satu.. masya Allah..

Kata bidan saya harus makan, agar kuat ketika harus mengejan nanti. Ga kepingin makan, tapi harus. Kemudian dari bidan, kami jalan kaki lagi ke tukang pecel ayam yang juga ga jauh dari rumah. Rupanya tukang pecel ayam paham juga kalau saya sedang menunggu pembukaan lengkap. Saya berusaha menikmati pecel ayam di tengeh-tengah kontraksi. Suami masih terus mengelus punggung saya ketika kontraksi. Kurang lebih jam 9 malam saya dan suami sudah kembali lagi ke rumah menunggu pembukaan bertambah. Selama menunggu itu saya mencari posisi yan nyaman ketika kontraksi, mulai dari duduk bersila, tiduran miring ke sebelah kiri, sampai jalan-jalan keliling ruangan. Akhirnya saya memilih untuk berjalan-jalan memutari ruangan ketimbang tiduran atau duduk saja. Pertama untuk menghilangkan rasa kantuk, kedua rasa sakitnya lebih enak dibawa jalan. Sambil terus mengatur nafas dan berzikir, suami  terus mengelus-elus punggung saya ketika kontraksi datang sambil  membuntuti saya di belakang. Di sela-sela kontraksi itu saya malah bolak-balik ke kamar mandi karna ingin pup terus. 

Menit demi menit, jam demi jam terlewati. Kontraksi semakin menguat dan keinginan untuk pergi ke bidan lagi semakin menguat. Saya sempat mengatakan kepada suami, 'enak kali ya kalau lahiran di rumah'. Ketika menulis ini, saya pun mempertimbangkan kelahiran anak berikutnya di rumah saja, (homebirth) mungkin akan lebih nyaman. Kurang lebih jam satu saya dan suami kembali lagi ke bidan dengan membawa perlengkapan persalinan. Jalan kaki melewati jalanan yang sepi. Hanya ada beberapa orang. Alhamdulillah paling tidak kami tidak menjadi bahan tontonan orang lagi seperti sebelumnya. Sesampainya di bidan tidak ada orang. Sepi sekali. Lima menit menunggu akhirnya bidan yang tadi memeriksa saya turun dan membukakan pintu. Seorang bidan berjilbab, muda dan cantik. Ia yang seorang diri menangani saya sampai proses persalinan selesai. Saya pun tidak menyangka bahwa bidan ini yang akan menangani saya, bukan bidan senior dimana namanya terpampang di depan kliniknya. Bismillah.. Saya pasrah dan yakin bidan ini tidak perlu diragukan. Perlakukannya kepada saya cukup baik dan lembut. 

Sudah bukaan dua rupanya. Bidan mengatakan jam 6 nanti diperiksa lagi,  sementara saya disuruh istirahat agar tidak kecapean saat mengejan. Ia menyuruh saya tidur miring ke kiri untuk mengurangi rasa sakit. Harapannya ketika dalam posisi tersebut saya juga bisa tertidur di sela-sela kontraksi. Memang bisa tertidur.. Tapi hanya dalam hitungan beberapa menit lalu kemudian berjuang lagi mengatur nafas dan merasakan gelombang cinta yang semakin lama semakin kuat.  Bahkan karna semakin kuatnya, hampir berpikir apakah saya kuat bertahan? Ketika masih di rumah dan datang kontraksi, saya masih bisa berzikir sambil memohon ampun pada Allah, tapi ketika di bidan zikir-zikir itu sulit sekali terucap. Saya hanya mendengarkan suami yang terus berzikir sambil mendampingi saya. Menahan kantuknya untuk menemani saya. Dalam keadaan seperti itu, saya teringat kisah Maryam binti Imran dalam Al-qur'an. Betapa ia seorang diri menahan rasa sakit menjelang persalinan dan ia sempat berputus asa karna rasa sakit yang ia rasakan. Apalagi saya perempuan biasa yang tak lebih mulia dari Maryam. Maryam yang dimuliakan Allah pun merasakan sakit dalam proses persalinannya, maka adalah hal yang wajar ketika saya merasakan kepayahan yang sama dan sempat mengatakan saya tidak kuat. Tapi alhamdulillah suami dan bidan muda ini terus menyemangati saya. Seperti jibril yang datang kepada Maryam untuk menghiburnya dan menyemangatinya agar ia tidak berputus asa. 

Tepat jam empat subuh, ketuban saya pecah. Rasanya seperti ada balon besar si dalam perut yang pecah. Tidak sakit. Setelah itu air merembes ke baju yang saya kenakan. Suami memanggil bidan, bidan muda ini pun dengan sigap memeriksa saya. Ia tidak mengatakan pembukaan sudah lengkap atau belum. Lalu ia bersiap-siap dengan perlengkapannya. Sementara kontraksi semakin kuat dan saya hampir tidak bisa menahan untuk mengejan. Beberapa kali saya mengejan sebelum bidan menyuruh. Masya Allah rasanya luar biasa. Inilah jihad seorang perempuan. Ketika itu sungguh saya pasrah kalau umur saya hanya sampai disitu. Tak berapa lama saya boleh mengejan, walaupun dua kali saya mengejan di awal. Dengan tenaga yang tersisa, dengan bantuan bidan yang terus menyemangati dan zikir-zikir suami alhamdulillah akhirnya pecah tangis bayi mungil perempuan ketika azan subuh berkumandang. Mendengar tangisnya yang keras, seketika itu juga saya merasakan rindu. Rindu tangisan bayi, rindu ingin bertemu bidadari mungil kami yang kedua.
Bidan membersihkan tubuh bayi mungil kami lalu meletakkan di dada saya. Lucu sekali melihat wajahnya. Apalagi ketika ia berusaha mencari-cari rizkinya dengan merayap di tubuh saya. Bayangkan betapa bayi baru lahir sudah dijamin rizkinya oleh Allah. Ia hanya tinggal berusaha mencari di tubuh ibunya. Bahagia tiba-tiba menyeruak diantara kami. Sedikit air mata berlinang di pelupuk mata suami. Saya mengerti ia sangat lelah karna semalaman tidak tidur, khawatir dan takut selama menemani saya. Ia juga mengalah dan membiarkan saya menyalakan kipas angin karna kegerahan, sementara ia selalu masuk angin kalau kena kipas angin atau AC. Tapi ia berusaha kuat dan tenang agar saya juga bisa kuat. Membayangkan tanpa ia mendampingi itu rasanya ga mungkin saya bisa kuat. 

Alhamdulillah bidadari mungil kami lahir dengan sehat. Lahir pada pukul 04.30 pagi dengan berat 3,1 kg dan panjang 49 cm. Ayahnya memberi nama Fatimah Qonita Shabira. Fatimah putri Rasulllah, nama pemberian dari seorang ustad yang mengajar tahsin suami. Katanya smoga keberkahan meliputi keluarga kami dengan nama tersebut. Qonita Shabira, smoga menjadi anak perempuan yang taat kepada Allah dan sabar seperti Fatimah Azzahra. Aamiiin..

Wednesday, December 9, 2015

Katalog Jilbab Anak Kupunya Kids Hijab Size 3

Bismillah...
Bagian kedua dari katalog jilbab balita Kupunya Kids Hijab. Size 3 untuk usia 3-4 tahun.
Bahan jilbab polyester double yang tebal dan yaman dipakai.


Tuesday, December 1, 2015

Katalog Jilbab Anak KupunyaKidsHijab Size 1

Bismillah..
Ini dia katalog jilbab anak kami yang baru saja launching.
Jilbab balita size 1 (usia 0-1 tahun)
 

Tuesday, October 20, 2015

Hijab Pertamaku Photo Contest

Hijab Pertamaku Photo Contest

Dear bunda..
Punya foto anak berhijab pertama kali?
Yuk ikutan lomba foto "Hijab Pertamaku"

Caranya:
1. Upload foto anak (usia balita) di Instagram atau facebook
    Tag @kupunyakidshijab dengan hastag #hijabsejakdini #kuishijabpertamaku
    Tulis nama anak, umur dan tulis harapan bunda untuk si kecil
2. Share kuis ini di instagram atau facebok
3. Kirim sebelum 21 November 2015
4. Pemenang akan diumumkan pada 27 November 2015

10  foto terbaik akan mendapakan hadiah dari Kupunya Kids Hijab dan sponsor berupa:
- 3 paket hijab anak Kupunya Kids Hijab
- 3 buku Hypnoparenting Henny Puspitarini
- 1 buku Membangun Rasa Percaya Diri Anak Henny Puspitarini
- 1 gamis dewasa syar'i Zizara
- 3 gamis anak Zizara
- 1 paket boneka jari Dijahit Indah
- 3 paket bros dan headband Putik Gallery
- 2 paket jilbab HaninStore
- 1 buku Prophetic Parenting dari bukuapa.com
- 1 buku Tarbiyatul Aulad dari bukuapa.com

Syarat dan ketentuan foto:
- Foto menjadi milik Kupunya Kids Hijab dan dapat dipergunakan untuk kepentingan Kupunya Kids Hijab
- Foto asli tanpa editan/watermark

Sponsored by:
Hekanopishop
Zizara
Dijahit Indah
Putik Gallery
Hanin Store
www.bukuapa.com

Karna engkau cantik berhab sejak dini...

Monday, October 12, 2015

My Second Pregnancy

Alhamdulillah.. kamis lalu ayah, bunda dan kakak menengokmu ke dokter. Kehamilan bunda sudah berumur 24 minggu. Dokter mengatakan bahwa posisi ade melintang di perut bunda dengan kepala di sebelah kiri dan kaki di sebelah kanan bunda. Lalu menyarankan agar bunda lebih banyak sujud. Itu berarti Allah ingin jauh lebih dekat lagi dengan bunda dengan sujud-sujud panjang bunda. Sama seperti sujud-sujud panjang bunda ketika kakak juga dalam posisi sepertimu dalam usia 7 bulan di kandungan. 

Perkiraan dokter engkau akan lahir pada bulan Januari, bulan yang sama dengan kakak. Berarti kakak dan ade akan berbeda usia tepat 2 tahun. Sedang jenis kelamin ade masih belum bisa terlihat di layar usg. Laki-laki atau perempuan sama saja. 

Ketika umur kakak 1 tahun lebih, ayah dan bunda memang merencanakan untuk punya anak lagi. Dan Allah mengabulkan doa kami dengan sangat cepat. Setahun tiga bulan bunda positif hamil lagi. Tapi sayangnya kebahagian bahwa bunda hamil justru menjadi momen yang sedih. Karna saat itu kakak yang masih asi sudah tidak mau lagi menyusu dari bunda. Dalam waktu dua hari saja, kakak berubah drastis tidak mau menyusu. Kakak juga tidak mau minum asi perahan dari bunda. Rasanya sedih sekali.. kakak jadi rewel setiap hari. Tidur malam yang biasanya sambil disusui bunda, kakak lalui dengan banyak menangis. Ayah yang banyak menggendong kakak ketika ada di rumah. Kakak hanya bisa tidur dengan cara dipangku ayah atau bunda sambil dibacakan surat-surat pendek dalam Quran. Lebih sering digendong lama baru bisa tidur. Sambil memangku dan membacakan lantunan Quran tak terasa air mata menetes deras. Kala itu ayah dan bunda tidak paham kalau ternyata bunda hamil dan kehamilan bunda yang menyebabkan kakak tidak lagi menyusu. Kakak menyapih dirinya sendiri sebelum 2 tahun. Alhamdulillah kakak cepat menyesuaikan diri. Kurang lebih 2 minggu kakak sudah tidak rewel lagi. Mulai terbiasa tidak menyusu. 

Sejak peristiwa itu ayah dan bunda bertekad untuk memberikan jarak 2 tahun untuk kehamilan selanjutnya. Ade harus cukup asi selama 2 tahun. Kondisi setiap ibu berbeda. Kondisi bunda yang mungkin agak lemah tidak akan kuat dengan kondisi nursing while pregnant, maka dengan seizin Allah kakak menghentikan asinya sendiri.

Kehamilan yang kedua ini tak jauh beda dengan kehamilan pertama bunda. Tidak banyak keluhan. Mual dan muntah sudah biasa, tapi tidak setiap hari. Ketika bidan menanyakan ada keluhan apa? Bunda lebih sering bilang "ga ada mba". Bunda hanya lebih sering merasa lemas di pagi hari hingga menjelang zuhur.  Mungkin karna tekanan darah yang rendah. Bunda tidak ngidam. Pernah mendengar ceramah seorang ustadz, bahwa ngidam itu tidak ada. Ketika seorang ibu hamil, berarti di dalam tubuhnya ada benda asing. Dan normalnya tubuh manusia akan bereaksi terhadap benda asing tersebut. Misalnya dengan mual, muntah dan sebagainya. Ketika perempuan hamil, maka kebutuhan psikologisnya akan perhatian dari orang-orang terdekatnya akan meningkat dari biasanya. Ketika kasih sayang atau perhatian tersebut terpenuhi maka tidak akan reaksi ngidam. Karna itu ketika hamil, perempuan harus mendapatkan perhatian lebih dari biasanya terutama dari suaminya.  Hal ini yang sering bunda ingatkan pada ayah. "Ayah, bunda lagi hamil ga boleh sedih".
Yang agak berat adalah ketika melawan rasa lemas di pagi hari. Karna bunda harus memasak, walaupun tidak setiap hari dan mengajar TK. Kalau mau dituruti bisa-bisa bunda hanya tiduran saja.

Perbedaan dengan kehamilan kakak adalah bunda tidak lebih banyak dimanja oleh orang-orang sekitar bunda. Dulu ketika hamil kakak, ayah tidak pernah mengendarai motor lebih dari 40 km/jam saat membonceng bunda. Sekarang ayah santai saja dengan kecepatan lebih dari itu, hanya saja tetap hati-hati. Ketika hamil kakak, mbah uti jauh lebih 'bawel' daripada sekarang. Ga boleh ini, ga boleh itu. Sekarang kalau bilang "jangan angkat berat-berat". Bagaimana bisa? Karna setiap hari selalu ada momen menggendong kakak yang beratnya sudah 10 kg lebih. Bunda yakin Insya Allah itu tidak apa-apa. Bunda juga setiap hari naik turun tangga sambil menggendong kakak. Jemur baju, angkat jemuran dan lain-lain. Bunda jadi lebih merasa kuat dan tidak manja dibanding hamil kakak. 

Semoga bunda bisa melahirkan normal seperti kakak. Semoga persalinan ade dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah.. aamiiin..

Friday, October 9, 2015

Potret Kehidupan Dhuafa

Pagi itu tiba-tiba saja terdengar suara anak laki-laki menangis di depan sekolah. Seorang guru yang penasaran lalu menghampiri datangnya suara. Ternyata ada kerumunan wali murid yang kebetulan mengantar anak-anak sekolah dan satu bocah laki-laki berusia sekitar 8-9 tahun sedang menangis. Sang guru segera menghampiri kerumunan. "Ada apa?". Bocah laki-laki itu berkata sambil terus menangis. "Itu.. mau ambil uang tabungan sama uang seragam". Katanya sambil terus menangis. Sepertinya ia takut dengan kerumunan ibu-ibu yang tampak marah. Lalu ada seorang ibu yang menjelaskan. "Itu bu katanya Alifa mau keluar terus minta uang tabungan sama uang seragam. Bukannya bapaknya yang kesini, malah bocah disuruh-suruh!". Katanya kesal. "Oh yasudah". Sang guru kembali ke aktivitasnya bersama anak-anak. Biar saja nanti  ditunggu sampai orangtuanya datang, kalau memang uang tabungan dan seragam ingin dikembalikan. Anak-anak di dalam kelas sudah menunggu, pikirnya.

Seperti biasa aktivitas para guru setelah mengajar adalah menyiapkan pelajaran untuk minggu depan. Tersebarlah berita pagi itu dengan rasa kecewa para guru. Memang Alifa sudah berminggu-minggu tidak masuk sekolah, tak ada kabar berita. Padahal ketika ia datang bersama ibunya untuk mendaftar, ibunya bersemangat sekali mendaftarkan Alifa sekolah, karna usianya sudah 6 tahun. Para guru kecewa karna sekolah kami memang sering 'diremehkan' orangtua. Misalnya tidak masuk sekolah berhari-hari tanpa kabar berita, ternyata anak ikut orangtua berjualan tak sempat mengantar anak sekolah. Atau tak masuk sekolah karna orangtua kesiangan bangun, tak sempat mengantar sekolah juga. Pendidikan tidak menjadi nomor satu. Asal sekolah saja dapat ijasah, bisa sedikit baca tulis hitung (calistung).

Sekolah gratis kadang membuat orangtua kurang tanggung jawab terhadap kewajibannya menanamkan kepada anak bahwa pendidikan itu penting, sekolah itu penting. Kalau hari ini banyak orangtua yang 'merumahkan' sekolah (homeschooling), para orangtua dhuafa ini dengan tingkat pendidikan yang rendah tidak paham bahwa sebenarnya mereka juga bisa menyekolahkan anaknya di rumah. Solusinya hanyalah menyekolahkan anak. Lalu apa yang terjadi jika anak tidak sekolah? Anak main begitu saja.

Tak berapa lama para guru membicarakan Alifa, seorang bapak bersama seorang bocah laki-laki dan Alifa datang dengan mengendarai motor. Itu pasti ayah Alifa. Ayah Alifa kemudian masuk dan menjelaskan bahwa Alifa mau keluar sekolah saja dengan alasan bangunnya siang terus dan ia serta istrinya tak sempat mengantar jemput Alifa lagi karna harus bekerja. Tidak bekerja berarti tidak bisa menyambung hidup untuk esok hari. Salah seorang guru bertanya lembut kepada Alifa. "Alifa masih mau sekolah ga?". Alifa tersenyum lalu menganguk. "Nanti pake crayon". Katanya lugu. Kami para guru senang sekali mendengar jawabannya. Masih ada harapan untuk memperjuangkan Alifa. Akhirnya kami  memutuskan untuk tidak menyerah begitu saja memberikan uang tabungan dan uang seragam Alifa. Ayah Alifa kami minta untuk berfikir ulang untuk solusinya. Jangan sampai ketika keluar dari TK kami, ia dibiarkan begitu saja dirumah. Tidak sekolah dan tidak juga diajarkan minimal baca, tulis, hitung oleh orangtuanya dirumah. Entah Alifa dipindahkan ke sekolah dekat rumah atau mencari celah untuk bisa tetap mengantar jemput sekolah atau yang lainnya. Akhirnya ayah Alifa pulang tanpa membawa uang tabungan dan meninggalkan pekerjaan rumah untuk solusi atas anaknya.

Inilah potret kehidupan dhuafa. Di satu sisi harus tetap bekerja menyambung hidup, sampai-sampai pendidikan anak dikorbankan. Pendidikan rendah orangtua menjadikan mereka tak punya cita-cita yang tinggi untuk anak-anak mereka kelak. Lalu apa yang terjadi ketika anak-anak ini tidak berpendidikan dan mewariskan garis kehidupan dhuafa dari orangtuanya? Akankah ada lingkaran potret dhuafa yang terus berulang? Wallahu’alam..

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...